Lagi
Banyak sekali puisi
Di kepala si tak begitu tahu apa2 tentang dunia ini,
Yang dia tahu hanya kata2 indah,
Bermakna atau tidak?
Abstrak sekali ilmunya,
Ilmu pasti di kepalanya?
Hanya kenangan bangku sekolah 9 tahunnya, itu pun beberapa,
Itulah yang sedih baginya,
Ingin sekali ia isi kepala besarnya,
Dengan anatomi, dan ilmu2 medis-biologis-fantastis sejenisnya,
Desah dan tarikan nafas,
Menandakan semuanya,
Dia merindukan waktu yg
Berlalu dalam ilusi, sungguh,
Berharap hari esok kesempatan itu ada,
Berharap jalannya benar,
Berharap jalan berteman dengannya,
Mengaminkan harapannya,
Tapi ada rasa bersalah, terhadap
Jalan yg ditempunya,
Yg rela diinjak, menjadi pijakan, menjadi pacuhan, melanjutkan sisa hidupnya, sekarang,
Kepalanya juga diisi pertanyaan dan sedikit paksaan,
Mengapa kau tak coba berteman yg dapat dengan jelas kau rasakan hadirnya,
Tak berjarak jauh, bahkan sangat dekat,
Tapi sungguh tak semudah itu,
Tak semudah itu untuk tak berharap,
Lagi
Di kepala si tak begitu tahu apa2 tentang dunia ini,
Yang dia tahu hanya kata2 indah,
Bermakna atau tidak?
Abstrak sekali ilmunya,
Ilmu pasti di kepalanya?
Hanya kenangan bangku sekolah 9 tahunnya, itu pun beberapa,
Itulah yang sedih baginya,
Ingin sekali ia isi kepala besarnya,
Dengan anatomi, dan ilmu2 medis-biologis-fantastis sejenisnya,
Desah dan tarikan nafas,
Menandakan semuanya,
Dia merindukan waktu yg
Berlalu dalam ilusi, sungguh,
Berharap hari esok kesempatan itu ada,
Berharap jalannya benar,
Berharap jalan berteman dengannya,
Mengaminkan harapannya,
Tapi ada rasa bersalah, terhadap
Jalan yg ditempunya,
Yg rela diinjak, menjadi pijakan, menjadi pacuhan, melanjutkan sisa hidupnya, sekarang,
Kepalanya juga diisi pertanyaan dan sedikit paksaan,
Mengapa kau tak coba berteman yg dapat dengan jelas kau rasakan hadirnya,
Tak berjarak jauh, bahkan sangat dekat,
Tapi sungguh tak semudah itu,
Tak semudah itu untuk tak berharap,
Lagi
Komentar
Posting Komentar